PENANTIAN PANJANG IBU MALIN

 Penantian Panjang Ibu Malin


Kerinduan yang bertumpuk akan anaknya yang pergi merantau. Membuat resah gelisah. Doa selalu didawamkan untuk kepulangannya. Akhirnya, doanya terkabul. Berhembus kabar anaknya akan pulang kampung.


Rumahnya yang sederhana telah dibersihkan. Ibu Malin memasak makanan kesukaan Malin. Kamar untuknya menginap telah dirapihkan dan wangi dengan bunga-bunga dari kebun belakang. Telah lama dipilih pakaian yang akan ia pakai nanti saat menjemput anaknya di pelabuhan. Hatinya buncah bahagia. Entah berapa kali ia ucap hamdalah di dada.


Angin laut mengibarkan kerudung ibu Malin. Semakin dekat kapal yang ditunggu. Berdebar tak karuan menanti. "Ah..anakku akhirnya kau kembali" sorot bahagia berpendar dari mata ibu Malin.


Kerumunan orang menghalangi pandangan ibu Malin. Anak buah kapal menurunkan muatan. Berdiri gagah penuh karisma anak yang didamba. 


Ibu Malin mendekat, wajahnya telah lama terbayang dalam bait doanya. Tak kuat ia untuk berbicara. Tubuhnya bergetar karena rindu. " Ya Allah akhirnya Kau sampai kan ia juga kesini"


"Ada apa Bu?" Tanya Malin kala ibunya. "Oh, kau tidak mengenal ibu?" Ibu Malin heran. "Maaf saya tidak kenal" jawab Malin. Malin berjalan menjauhi ibu. Derai air mata tak terbendung. Tergugu, jongkok di pasir. Tetes air matanya menggenangi pasir.


Seorang perempuan cantik mendekatinya. "Ibu, mengapa menangis?". " Tidak apa-apa. Ibu cuma rindu anak ibu. Wajahnya mirip sekali dengan tuan yang baru datang". Di dada ibu Malin ada batu. Batu kekecewaan yang sangat keras. 


"Oh, itu suami saya. Ia belum pernah bercerita tentang ibunya. Saya maklum. Karena ketika muda, ia terdampar tak sadarkan diri di tepian pantai. Mungkin satu Minggu ia terkatung katung di lautan. Tak ingat masa lalunya. Jika bukan karena pertolongan Allah ia pasti tak selamat. Ayahku menggotongnya ke rumah. Lalu merawatnya"  Batu di dada ibu Malin, pecah berhamburan menjadi butir pasir nan lembut. Kesalnya lesap. Berubah rasa syukur Allah masih terus menjaga Malin.


"Bolehkah saya bekerja untuk tuan? Masakan saya enak. Saya bisa bantu-bantu di dapur" ibu Malin melihat secerah kesempatan untuk dekat-dekat dengan anaknya. "Iya Bu, boleh. Esok temui saya di ibu kota" jawab perempuan yang baik itu


Rumah, 24 Juni 2019

Komentar

  1. masyaallah, saya suka versi malin yang mbak tulis kali ini. sangat menyentuh dan penuh dengan cinta seorang ibu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna