Resensi Ayah karya Irfan Hamka
Membaca biografi selalu melenakan. Ada peristiwa- peristiwa ajaib yang kadang mencengangkan ada pula yang menyentuh hati hingga mata ini tak bisa menahan derai.
Hal itulah yang saya rasakan ketika membaca biografi Buya Hamka tulisan Irfan Hamka terbitan @bukurepublika.
Di awal buku, saya dibuat mangu menikmati kisah bagaimana Buya Hamka, Ummi dan Irfan Hamka melaksanakan ibadah haji. Kisah perjalanan di kapal laut mengingatkan saya pada novel Rindu @tereliye.
Moment perjalanan perjalanan darat dari Irak menuju Mekah adalah kisah favorit saya. Sebuah pengetahuan baru bagaimana hampar padang pasir begitu syahdu di satu sisi namun begitu menyeramkan di sisi yang lain.
Kisah Umar (sang sopir), Buya Hamka, Ummi dan Irfan yang melintasi jalan lurus dengan tepian gurun dan tiga keadaan mencekam yang terjadi menyadarkan saya betapa benar kita perlu berserah pada Allah.
Kisah lain yang sangat membekas di hati dan ingatan saya adalah kisah Ummi (istri Buya Hamka). Kisah tegarnya Ummi kala Buya Hamka di penjara, bagaimana Ummi menjamu pedagang yang datang ke rumahnya dan pendapat Ummi kala Buya Hamka ditawari menjadi kedubes Arab Saudi. Benar kiranya dibalik kesuksesan lelaki ada perempuan yang hebat di belakangnya.
Terakhir kisah yang paling berkesan adalah tulus dan bersihnya hati Buya Hamka. Di dalamnya sama sekali tak ada bersit dendam pada orang-orang yang telah menyakiti dirinya.
Buku Ayah karya Irfan Hamka ini tak akan lekang oleh waktu. Isinya kisah sejati yang terhubung langsung ke hati. Kesan anak atas ayahnya yang begitu lengkap dan menyentuh. Memberikan sudut yang personal atas sosok Buya Hamka sebagai seorang ayah.
Quote favorit:
Hal XXV
Buya Hamka, yang sudah disakiti bertahun-tahun itu, termasuk anak istri dan keluarganya, tidak menganjurkan untuk membalas dendam sama sekali. Masya Allah betapa mulia hati beliau.
Hal 56
Aku masih ingat petuah Ayah kepadaku, orang yang disebut pendekar adalah orang yang memiliki akal yang pandai dan cerdas. Sebutan Pendekar di negeri kami, Minang, berarti "pandai akal".
Hal 56-57
Dan bagaimana pula Ayah mampu melakukan perjalanan ribuan kilometer mengelilingi Sumatera Tengah sampai Riau berjalan kaki, masuk hutan keluar hutan, bertemu binatang buas, berhari bermalam, dari mulai 2-3 Desember 1948 sampai 6 Februari 1949 jika Ayah tidak memiliki jiwa berani dan pantang menyerah. Seorang pendekar yang hanya takut kepada Allah.
Hal 131
Dalam hal agama, Ayah adalah orang yang sangat teguh dan istikomah, baik kepada anaknya sendiri maupun kepada pihak lain. Ayah tak pernah goyah dalam prinsip-prinsip beragama.
Hal 200
Kami, anak-anaknya, mendengar bahwa Ayah akan diangkat jadi Duta Besar sangat gembira karena dapat tinggal dan bersekolah di Arab. Namun, kembali Ummi kami yang sederhana dan bijaksana itu memberi pandangan lain
"Angku Haji, umat mulai semarak saat ini. Dakwah yang makin semarak itu semua dimulai dari Angku Haji. Di masjid ini, apa yang Angku Haji bina telah terpancar dan dicintai umat. Apa semua yang baru ini akan ditinggalkan begitu saja dan diganti dengan kegiatan sebagai Duta Besar? Sebagai Duta Besar hampir tiap malam harus menghadiri jamuan yang diadakan oleh para Duta Besar yang berada di Arab itu. Lalu kapan waktu tersedia untuk Angku Haji mengaji Alquran yang tidak pernah ditinggalkan sejak kecil? Kapan waktunya untuk membaca menambah ilmu? Kapan pula waktunya untuk menjalankan hasil ilmu yang Angku Haji dapatkan dari membaca itu?" Ummi menyampaikan pandangannya kepada Ayah.
Hal 201
Dan, aku pun yakin betul bahwa sesungguhnya Ayah sudah bisa menduga apa pendapat Ummi di rumah bila Ayah mengabarkan tentang penawaran jabatan tersebut. juga Bukan hanya cinta, tetapi Ayah sungguh sangat menghargai istri yang sangat dicintainya, yang sekaligus adalah Ummi dari sepuluh orang anaknya.
Hal 208
"Allah telah memberi cobaan pada kita. Pagi tadi ka dianggap datang untuk mengemis. Sekarang Allah limpahkan rezekinya kepada kita," kata Ummi sambil terisak.
Ummi kemudian mengambil air wudhu dan shalat sunah syukur kepada Allah.
Kejadian di rumah si bos penerbit tadi pagi, tidak pernah diceritakan Ummi kepada Ayah. Sudah jadi kebiasaan Ummi tidak pernah mengadukan hal-hal yang dapat me nyusahkan hati Ayah.
Hal 230-231
Di Padang Panjang, dibuka taman bacaan milik Kongsi antara Engku Zainuddin Labai dengan Engku Sinaro. Setiap hari, sepulang sekolah Diniyah, pukul 10 pagi sampai pukul 1 siang, Ayah asyik membaca beragam buku di sana. Dari mulai buku agama Islam, sejarah, sosial, politik, maupun roman, semua tersedia di taman bacaan itu. Dengan banyak membaca, makin terbukalah hatinya melihat dunia yang luas ini.
hal 257
"Apa Buya tidak dendam kepada Soekarno yang telah menahan Buya sekian lama di penjara?"
Semua pandangan tersebut dijawab oleh Ayah dengan lemah lembut.
"Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik. Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Alquran 30 Juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu," kata Ayah dengan santun.
"Ada lagi jasa besar Soekarno untuk umat Islam di Indonesia. Dua buah masjid. Satu di Istana Negara, yaitu Masjid Baitul Rahim, dan satunya lagi sebuah masjid yang besar di Asia Tenggara, yaitu Masjid Istiqlal. Mudah mudahan jasanya dengan kedua masjid tersebut, dapa" meringankan dosa Soekarno." Ayah menambahkan pesannya.
Komentar
Posting Komentar