Di Suatu Senja
Ide tulisan ini berkelebat ketika di suatu senja suami menjemput.
Hmm entah apakah istilah
telat menikah itu tepat? Karena bukankah segala sesuatu punya
momentumnya masing masing. Namun istilah itulah yang saya dapatkan. Saya
menikah usia 31 tahun. Kala adik telah punya 3 orang putra, saya masih
lajang. Hmm jangan tanya bagaimana rasanya? Sungguh tak tergambarkan
kata kata.
Salah satu rasa iri yang
muncul dari banyak rasa iri yang muncul ketika belum menikah adalah
melihat teman teman saya di antar jemput suami. Rasanya gimana gitu 😅.
Waktu itu saya masih diantar jemput oleh bapak (mengingat saya tidak
bisa nyetir motor) Hmm maka salah satu harapan saya adalah semoga suami
saya kelak bersedia antar jemput saya.
Hmm nah kini
Alhamdulillah doa saya dikabulkan. Suamiku dengan setia selalu antar
jemput. Maka syukur selalu buncah setiap dengar suara khas motor suami
ketika menjemput. Senyum dan ucap terima kasih selalu saya sematkan
kepadanya.
Terdiam, saya
mengingatkan diri sendiri mudah mudahan ini selalu saya ingat! Hmm
karena seriring berjalannya waktu, kita sering lupa atas hal yang
terlihat sepele padahal sebuah anugerah.
Coba ingat ingat lagi
deh apa harapan kita sebelum menikah yang kini telah berwujud. Apakah
kita telah mengucapkan terima kasih pada pasangan? dan tentu saja
mengucap syukur pada Allah atas hal itu?

Komentar
Posting Komentar